Logo

ARTIKEL



MENGHINDARI KEKERASAN VERBAL PADA ANAK

Kampanye mengenai perlindungan terhadap anak terus disiarkan, namun bentuk-bentuk kekerasan tak pernah benar-benar berhenti. Tanpa adanya kesadaran dari setiap individu, baik anggota keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat pada umumnya, gerakan tersebut memang ibarat anjing menggonggong kafilah berlalu. Terlebih tidak sedikit di antara orangtua yang tidak memahami dengan baik arti kekerasan.

Kekerasan yang dimaksud disini memang bukan hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga bisa dalam bentuk verbal, emosional, maupun seksual. Kekerasan verbal termasuk bentuk kekerasan yang kerap ditemui dan biasanya orangtua tidak menyadari telah melakukan hal tersebut.

Penyebutan nama untuk anak yang bersifat merendahkan atau makian, seperti "kamu bodoh", "anak nakal", atau sering menyebutnya sebagai "sebuah kesalahan terbesar" merupakan bagian dari bentuk-bentuk kekerasan verbal. Biasanya hal ini terjadi ketika anak melakukan suatu hal yang dianggap salah. Sayangnya, bukannya diberi pandangan dan alasan yang tepat mengapa hal tersebut tidak boleh dilakukan, yang diterima anak justru hanya kemarahan.

Hal ini pun menimbulkan dampak jangka panjang pada anak, terutama pada segi perkembangan psikologis hingga anak dewasa. Diantaranya adalah persepsi diri yang negatif, anak enggan bersosialisasi, tidak mampu mengontrol amarahnya, dan melakukan kekerasan verbal terhadap teman sebayanya atau anaknya kelak ketika mereka sudah menjadi orang tua. Dengan kata lain, bentuk-bentuk kekerasan seperti ini pun akan terus berlangsung dari generasi ke generasi. Tak ada cara lain selain memulainya dari diri sendiri untuk memutus lingkaran tersebut.

Memerhatikan nada bicara dan menggunakan kosa kata yang tepat merupakan salah satu cara untuk menghindari terjadinya kekerasan verbal. Pada sebagian orang kebiasaan ini memang sulit untuk segera dilakukan, namun dengan sering melakukannya baik kepada pasangan maupun orang-orang disekitar maka hal tersebut sangat mungkin menjadi kenyataan terutama jika dalam keadaan emosi tinggi, di mana dalam momen seperti inilah kekerasan verbal kerap sulit dihindari. Pada akhirnya anak juga akan mencontoh prilaku tersebut sehingga tidak berkata kasar baik kepada orangtua, teman, maupun orang-orang di lingkungan sekitarnya.

disadur dari kompas

ARTIKEL LAINNYA